Sunday, February 24, 2013

Kelas Inspirasi 2

Kita tidak pernah terlalu sibuk untuk berbuat baik, berhenti berpikir tentang bagaimana caranya, cukup lakukan saja! Kelas Inspirasi adalah salah satu wadah yang saya pilih untuk memberikan kontribusi untuk negeri. Mungkin tak seberapa, saya cuma perlu mengajukan cuti sehari, membawa kamera kecil saya, dan menangkap momen-momen menyenangkan yang terjadi di hari inspirasi tersebut.

Inspirasi adalah proses dimana seseorang mereka merasa terstimulasi untuk merasakan atau melakukan sesuatu. Apakah saya menyebarkan inspirasi pada anak-anak SD Palmerah 05? Hmm ngga yakin sih! Justru saya yang terinspirasi. Hari itu, tanggal 20 Februari 2013, saya menginjak rem, break my routine and went back to school. Saya bertemu dengan anak-anak yang masih naif, masih bisa "dicoret-coret", masih punya keyakinan bahwa suatu hari nanti mereka bisa menjadi seseorang yang lebih baik dari kita semua. 

Rasanya saya ngga tega bilang ke mereka kalau nantinya hidup ngga mungkin sesuai ekspetasi dan mesti punya mental untuk mengatur ekspektasi. Tapi rasanya terlalu bitter untuk disampaikan ke anak-anak ini. Biarlah mereka punya cita-cita. Mereka adalah masa depan.

Foto-foto lengkapnya bisa dilihat di sini :)

Sunday, February 10, 2013

Lighting Up Indonesia's Future


Briefing Kelas Inspirasi 2

Siapapun yang kini telah mencapai posisi tertentu di bidangnya masing-masing tentu pernah melewati pendidikan di bangku sekolah. Entah itu proper atau tidak, bermanfaat atau tidak, menyenangkan atau menyebalkan, tapi kita pernah duduk di bangku sekolah. Mengutip perkataan Anies Baswedan, kita ini adalah korban pendidikan.

Sebagai korban pendidikan, kita bisa berada dimanapun kita berada sekarang. Kita bisa bekerja di perusahaan impian or maybe shitty office that could pay the bill. Anyway, waktu yang kita habiskan di kantor kira-kira 8 jam/hari, tapi sebagai buruh periklanan, kami biasa menghabiskan lebih dari 8 jam, mungkin sampai 12 jam, belum lagi akhir pekan yang sering dipakai untuk lembur. Rutinitas ini terkadang bikin kita saya lupa untuk berbagi kepada sesama. Nah, I'm not talking about giving your money, mungkin setiap orang sudah menyisihkan sebagian dari nafkahnya untuk yang butuh. I'm talking about giving your time to others. 

Inilah yang ditawarkan dalam Kelas Inspirasi, sebuah professional volunteer program yang berada dibawah yayasan Indonesia Mengajar dimana setiap profesional dapat berkontribusi terhadap pendidikan Indonesia dengan cara yang sederhana. Berbagi inspirasi kepada para siswa sekolah dasar tentang profesinya. Kelas Inspirasi 2 ini akan diadakan pada 20 Februari 2013, serentak di 7 kota di Indonesia. Para profesional dari berbagai industri dengan sukarela memberikan cutinya selama satu hari untuk menanamkan bibit mimpi kepada sebagian kecil siswa sekolah dasar.

Kenapa bibit mimpi? Karena anak-anak bermimpi dan bercita-cita berdasarkan apa yang ia lihat di sekelilingnya, keterbatasan membuat mereka tidak bisa bermimpi besar. Program ini ingin membukakan mata mereka bahwa ada buanyaaaaak profesi yang bisa dijalankan dengan usaha dan doa apapun bisa dicapai.

Sabtu lalu, saya menghadiri briefingnya di Gedung Indosat. Menurut panitia dari seribuan pendaftar hanya diterima 560 volunteer yang akan mengajar pada 20 Februari 2013. Jadi bayangkan kemarin ini sekitar 700an orang tumplek blek di audiotorium Indosat dengan satu tujuan, memberikan kontribusi untuk anak-anak Indonesia.


Mba Reno, chaperone kelompok kami. Tahun lalu dia menjadi volunteer pengajar di sebuah SD di Cilincing. Dia cerita, beberapa anak yang ia temui bercita-cita menjadi tukang ojek. Oh my...
Not that I'm proud of my job, tapi di Kelas Inspirasi ini saya tidak menjadi relawan pengajar tetapi menjadi relawan tukang foto. Saya ingin mengabadikan movement ini lewat gambar dengan harapan semangat yang ada bisa tertular oleh siapapun yang melihatnya. KYA! Semoga seru pas hari H-nya!
Pemutaran VT para siswa sekolah dasar tentang cita-cita dan mimpi mereka serta testimonial dari volunteer KI batch 1. Merinding banget nontonnya, asli!
Sebelum masuk ke sambutan ini dan itu, kami bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan, Indonesia Raya. Terakhir nyanyi lagu ini kayaknya waktu upacara sekolah deh, krik krik udah lama banget.
Ada aura positif yang disebarkan oleh Pak Anies dalam sambutannya. The man got great vision for this country. Coba deh baca surat panggilan Anies Baswedan untuk para profesional di sini.
Bobby Hartanto dari Fakultas Psikologi UI lagi memberikan tips dan trik dalam mengajar khususnya ke anak-anak. Lucu-lucu deh tekniknya, salah satunya kayak foto dibawa ini, tos siku dan reload, bang, and defence toast. 

Sunday, February 03, 2013

Friday Morning at Ben Thanh Market

I just got back from Saigon last week for a weekend getaway with friends from office. I woke up at 5AM the next morning which was Friday to go photo hunting with some friends around our hotel and Ben Thanh Market is in a walking distance. Ben Thanh Market is the largest market downtown Ho Chi Minh City, you can find anything there. But according to our local tour guide, there's no local who shopping there. At night, there's a Ben Thanh Night Market which open til 12AM but in the morning you can see people selling fruits, fresh food, flowers, etc. Why don't you take a look through my lens? 

The traffic still make sense unlike in Jakarta on Friday morning tho.
Let him pray before work.
There are a lot of stalls here at night, look, in the morning it's all clear like nothing had happened.
The rule in crossing street in Saigon: NO RULES. You just have to aware of your surrounding with confidence and cross the street. It was a challenge for me because there are a lot of motorcycles, a lot!

Other things about Saigon that amazed me; the sport facility in public park. Jakarta should have a lot of public parks with top notch facilities like in Saigon.
Le breakfast a la Vietnamese - Banh Mi, coffee, and small chairs like this.


Friday, December 28, 2012

Tujuan lo apa?

Tadi malam, Echa mention saya di Twitter, mewakili pacarnya yang mempertanyakan tentang apa sih yang ada dipikiran perempuan usia 25 tahun. Apa yah yang ada dipikiran perempuan usia 25 tahun, well, rasanya masih sama dengan apa yang saya pikirkan waktu umur saya masih 20. Jika di usia 20 tahun, saya masih idealis soal gambaran hidup, lima tahun kemudian udah berkompromi karena udah exposed sama yang namanya realita. Haha. Ada satu pertanyaan yang lagi saya cari jawabannya; What's your purpose in life?

Beberapa minggu lalu, saya melakukan dipstick interview ke teman-teman dengan berbagai latar belakang cerita dan usia. Semua dibawah 30 tahun dan bekerja. Sebagian besar menjawab: Kebahagiaan. Kemudian saya tanya lagi dong, what makes you happy then? jawabannya pun beragam, ada yang bilang saat melakukan hal-hal kecil yang disukai, saat melihat orangtua bahagia, saat menjadi manusia yang bebas tanpa ada beban pikiran, yada yada yada. Saya pun bertanya lagi, so are you happy now? Jawabannya, ya begitulah. Ya begitu lah kata lo? Oh come on! Bukannya tujuan hidupnya mencari kebahagiaan dan kini saat kebahagiaan sudah dirasakan dalam keseharian, masih jawab ya gitulah. 

Ngga puas. Saya butuh jawaban yang tangible. Happiness is intangible and I'm not sure if that is a purpose. Tapi ada satu teman saya yang menjawab dengan yakin; tujuan hidup gue ya, mati. Hahaha, dasar bitter! Tapi saya semacam mengharapkan jawaban sejelas itu dari yang lain. Terus akhirnya saya nanya dong ke Ayah saya yang udah pernah melewati usia 25 tahun. Dia bilang waktu dia seumur saya, tujuan hidupnya adalah menikah. Kenapa menikah? Karena dia merasa udah cukup lengkap sebagai lajang --pekerjaan yang baik, materi yang cukup, melakukan hal-hal yang ia suka. Lantas Ayah saya ini ingin melengkapi hidupnya dengan berkeluarga. Dia bilang, tujuan hidupnya terus berkembang sesuai dengan fase usia. Misalnya saat sudah punya anak, prioritasnya adalah pendidikan yang baik untuk saya dan adik saya. His purposes in life keep evolving from time to time. 

Mendengar betapa spesifik tujuan hidup Ayah saya sendiri, saya pikir generasi sekarang tuh over-thinking stuff yah. I bet most of my friends are come from wealthy family or yeah economically fortunate lah, jadi mungkin tidak merasakan susahnya hidup yang dibanding versi susah generasi sebelumnya. Makanya tujuan hidupnya adalah mencari kebahagiaan. Sedangkan saya sendiri kalo ditanya tujuan hidupnya apa, errrr, maunya sih jadi manusia yang bermanfaat buat orang lain. Eh tapi itu pun intangible ya? Entah deh, let me get back to you on that. Jadi, tujuan hidup lo apa?
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...