Siapapun yang kini telah mencapai posisi tertentu di bidangnya masing-masing tentu pernah melewati pendidikan di bangku sekolah. Entah itu proper atau tidak, bermanfaat atau tidak, menyenangkan atau menyebalkan, tapi kita pernah duduk di bangku sekolah. Mengutip perkataan Anies Baswedan, kita ini adalah korban pendidikan.
Sebagai korban pendidikan, kita bisa berada dimanapun kita berada sekarang. Kita bisa bekerja di perusahaan impian or maybe shitty office that could pay the bill. Anyway, waktu yang kita habiskan di kantor kira-kira 8 jam/hari, tapi sebagai buruh periklanan, kami biasa menghabiskan lebih dari 8 jam, mungkin sampai 12 jam, belum lagi akhir pekan yang sering dipakai untuk lembur. Rutinitas ini terkadang bikin kita saya lupa untuk berbagi kepada sesama. Nah, I'm not talking about giving your money, mungkin setiap orang sudah menyisihkan sebagian dari nafkahnya untuk yang butuh. I'm talking about giving your time to others.
Inilah yang ditawarkan dalam Kelas Inspirasi, sebuah professional volunteer program yang berada dibawah yayasan Indonesia Mengajar dimana setiap profesional dapat berkontribusi terhadap pendidikan Indonesia dengan cara yang sederhana. Berbagi inspirasi kepada para siswa sekolah dasar tentang profesinya. Kelas Inspirasi 2 ini akan diadakan pada 20 Februari 2013, serentak di 7 kota di Indonesia. Para profesional dari berbagai industri dengan sukarela memberikan cutinya selama satu hari untuk menanamkan bibit mimpi kepada sebagian kecil siswa sekolah dasar.
Kenapa bibit mimpi? Karena anak-anak bermimpi dan bercita-cita berdasarkan apa yang ia lihat di sekelilingnya, keterbatasan membuat mereka tidak bisa bermimpi besar. Program ini ingin membukakan mata mereka bahwa ada buanyaaaaak profesi yang bisa dijalankan dengan usaha dan doa apapun bisa dicapai.
Sabtu lalu, saya menghadiri briefingnya di Gedung Indosat. Menurut panitia dari seribuan pendaftar hanya diterima 560 volunteer yang akan mengajar pada 20 Februari 2013. Jadi bayangkan kemarin ini sekitar 700an orang tumplek blek di audiotorium Indosat dengan satu tujuan, memberikan kontribusi untuk anak-anak Indonesia.
Mba Reno, chaperone kelompok kami. Tahun lalu dia menjadi volunteer pengajar di sebuah SD di Cilincing. Dia cerita, beberapa anak yang ia temui bercita-cita menjadi tukang ojek. Oh my...
Not that I'm proud of my job, tapi di Kelas Inspirasi ini saya tidak menjadi relawan pengajar tetapi menjadi relawan tukang foto. Saya ingin mengabadikan movement ini lewat gambar dengan harapan semangat yang ada bisa tertular oleh siapapun yang melihatnya. KYA! Semoga seru pas hari H-nya!
Pemutaran VT para siswa sekolah dasar tentang cita-cita dan mimpi mereka serta testimonial dari volunteer KI batch 1. Merinding banget nontonnya, asli!
Sebelum masuk ke sambutan ini dan itu, kami bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan, Indonesia Raya. Terakhir nyanyi lagu ini kayaknya waktu upacara sekolah deh, krik krik udah lama banget.
Ada aura positif yang disebarkan oleh Pak Anies dalam sambutannya. The man got great vision for this country. Coba deh baca surat panggilan Anies Baswedan untuk para profesional di sini.
Bobby Hartanto dari Fakultas Psikologi UI lagi memberikan tips dan trik dalam mengajar khususnya ke anak-anak. Lucu-lucu deh tekniknya, salah satunya kayak foto dibawa ini, tos siku dan reload, bang, and defence toast.













2 comments:
Sepertinya posisi tempat duduk anda di belakang saya :p
Salam Inspirasi
Waaaah gitu ya! Mari berbagi tanggal 20 nanti, SEMANGAAAAT! :)
Post a Comment