Saturday, January 28, 2012

What's not acceptable

Daily gig saya sebagai strategic planner menuntut saya untuk bisa melihat dan mendengar apa yang diinginkan konsumen walaupun sebetulnya kami lebih banyak "menciptakan kebutuhan" mereka, bikin yang tadinya ngga merasa perlu jadi perlu. Untuk mengembangkan konsep sebuah iklan, biasanya kami melakukan riset untuk mendapatkan insight --to unfold the underlying truth about something. Karena pekerjaan ini saya bisa aja melakukan riset lewat ngobrol dengan anak SD, anak kuliah, penjahit, tukang ojek, ibu-ibu, internet freaks dan yang baru-baru ini saya lakukan ngobrol dengan kurir.

Saya percaya kita semua pernah mengalami those days pas kerjaan lagi busuk-busuk dan kalo setiap keluhan dihargai satu gram emas pasti semua orang yang mengalami kejenuhan kerja bisa kaya mendadak. Nah waktu kemarin ngobrol dengan bapak-bapak kurir ini saya melihat adanya semangat untuk bekerja demi anak istri, ada keikhlasan menjalani hidup karena mereka semua bersyukur atas apa yang mereka punya.

"Ya siapa sih mba yang punya cita-cita jadi kurir, semua orang pasti pengen kerja yang nyaman dengan jenjang karir yang pasti. Jujur dulu waktu muda saya gengsi, tapi sekarang sih telen aja gengsi itu, yang penting bisa kasih makan anak istri dengan halal, hati tenang"

"Saya suka banget sama kerjaan ini soalnya ngga harus diam dikantor, seringnya diluar, ketemu orang. Capek? Iyalah capek banget, kebayang kan mba gimana lalu lintas Jakarta. Tapi capek fisik itu bisa ilang kalo dipijet, tapi kalo capek pikiran kayak orang kantoran itu sih susah ya ilangnya..."

Lucu ya, gimana sebagian dari kita berpikir bahwa mereka adalah orang-orang yang kurang beruntung atau tidak kaya secara materi justru adalah orang-orang yang paling beruntung dan paling kaya. Mereka bahagia dengan apa yang mereka punya dan they are the true definition of living for today. Kemarin ya sudah lewat, hari ini harus  lebih baik, biarkan esok hari memberi kejutan lain.

Pokoknya saya angkat jilbab eh topi buat mereka yang kita pikir kurang beruntung tapi bangga dan bekerja dengan sepenuh hati. Complaining is acceptable, but giving up isn't.

"Jenuh sama kerjaan dan mengeluh sih suka juga mba, tapi saya rasa itu manusiawi banget kok, sesekali boleh mengeluh asal jangan menyerah!"

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...